Untuk mengenang Ibu kita dalam rangka hari IBU (22 Desember)
Bayangkan:
- Saat kita berusia 1 tahun, Ibu memandikan dan merawat kita. Sebagai balasannya, kita malah menangis di tengah malam.
- Saat kita berusia 2 tahun, Ibu mengajari kita berjalan. Sebagai balasan, kita malah kabur ketika Ibu memanggil kita.
- Saat kita berusia 3 tahun, Ibu memasakkan makanan kesukaan kita. Sebagai balasan, kita malah menumpahkannya.
- Saat kita berusia 4 tahun, Ibu memberi kita pensil berwarna. Sebagai balasan, kita malah mencoret-coret dinding dengan pensil tersebut.
- Saat kita berusia 5 tahun, Ibu membelikan kita baju yang bagus-bagus. Sebagai balasan, kita malah mengotorinya dengan bermain-main di lumpur.
- Saat kita berusia 10 tahun, Ibu membayar mahal-mahal uang sekolah dan uang les kita. Sebagai balasan, kita malah malas-malasan bahkan bolos.
- Saat kita berusia 11 tahun, Ibu mengantarkan kita ke mana-mana. Sebagai balasan, kita malah tidak mengucapkan salam ketika keluar rumah.
- Saat kita berusia 12 tahun, Ibu mengizinkan kita menonton di bioskop dan acara lain di luar rumah bersama teman-teman kita. Sebagai balasan, kita malah meminta Ibu duduk di barisan lain, terpisah dari kita dan teman-teman kita.
- Saat kita berusia 13 tahun, Ibu membayar biaya kemah, biaya pramuka, dan biaya liburan kita. Sebagai balasan, kita malah tidak memberinya kabar ketika kita berada di luar rumah.
- Saat kita berusia 14 tahun, Ibu pulang kerja dan ingin memeluk kita. Sebagai balasan, kita malah menolak dan mengeluh, "Mama, aku sudah besar!".
- Saat kita berusia 17 tahun, Ibu sedang menunggu telepon yang penting, sementara kita malah asyik menelpon teman-teman kita yang sama sekali tidak penting.
- Saat kita berusia 18 tahun, Ibu menangis terharu ketika kita lulus SMA. Sebagai balasan, kita malah berpesta semalaman dan baru pulang keesokan harinya.
- Saat kita berusia 19 tahun, Ibu membayar biaya kuliah kita dan mengantar kita ke kampus pada hari pertama. Sebagai balasan, kita malah meminta Ibu berhenti jauh-jauh dari gerbang kampus dan menghardik, "Mama, aku malu! Aku 'kan.sudah gede!"
- Saat kita berusia 22 tahun, Ibu memeluk kita dengan haru ketika kita diwisuda. Sebagai balasan, kita malah bertanya kepadanya, "Mama, mana hadiahnya? Katanya mau membelikan aku ini dan itu?"
- Saat kita berusia 23 tahun, Ibu membelikan kita sebuah barang yang kita idam-idamkan. Sebagai balasan, kita malah mencela, "Duh! Kalau mau beli apa-apa untuk aku, bilang-bilang dong! Aku 'kan nggak suka model seperti ini!"
- Saat kita berusia 29 tahun, Ibu membantu membiayai pernikahan kita. Sebagai balasan, kita malah pindah ke luar kota, meninggalkan Ibu, dan menghubungi Ibu hanya dua kali setahun.
- Saat kita berusia 30 tahun, Ibu memberi tahu kita bagaimana cara merawat bayi. Sebagai balasan, kita malah berkata,"Mama, zaman sekarang sudah beda. Nggak perlu lagi cara-cara seperti dulu."
- Saat kita berusia 40 tahun, Ibu sakit-sakitan dan membutuhkan perawatan. Sebagai balasan, kita malah beralasan, "Mama, aku sudah berkeluarga. Aku punya tanggung jawab terhadap keluargaku."
- Dan entah kata-kata apalagi yang pernah kita ucapkan kepada Ibu. Bukan mustahil, itu yang menyumbat rezeki dan kebahagiaan kita selama ini.
Dikutip dari "7 Keajaiban Rezeki"
Showing posts with label anak. Show all posts
Showing posts with label anak. Show all posts
Wednesday, December 22, 2010
Monday, November 29, 2010
WIBAWA ORANG TUA DI MATA ANAKNYA
Di sisi lain, sering terjadi perselisihan antara orang tua mengakibatkan anak tidak menghargai salah satu atau kedua orang tuanya. Suatu misal, seorang ibu yang sedang marah kepada anaknya karena bersalah, lalu datang sang ayah membela anaknya dengan serta merta memaki-maki atau mungkin memukul sang ibu di hadapan anaknya. Sebaliknya ada seorang ayah memerintah sang ibu suatu hal, lalu sang ibu membantah di hadapan anak-anaknya.
Dua fenomena di atas bisa menyebabkan nasehat kedua orang tua atau salah satunya diabaikan sang anak, wibawa mereka hilang begitu saja, lantaran anak sering menyaksikan salah satu dari keduanya melakukan tindakan yang tidak selayaknya mereka lakukan sehingga anak menganggap itu adalah suatu kebodohan, tidak perlu ditaati, dan perkataan yang sia-sia. Pada akhirnya, anak-anak tumbuh dengan sekehendak mereka, sulit diatur, dan tidak menuruti kata-kata orangtua, bahkan berani melawan mereka, dan sungguh kebanyakan anak-anak yang bermasalah adalah anak-anak yang tumbuh dari rumah tangga yang dipenuhi pertengkaran antara kedua orangtuanya dan jauh dari bimbingan Sunnah Nabawiyah.
Bagaimana menjaga wibawa orang tua?
1. Mengajari anak bahwa Alloh mewajibkan birrul walidain
Apabila anak sudah dapat menangkap dan memahami pembicaraan, sudah selayaknya orangtua mengajarkan kepada anaknya bahwa Alloh dan Rosul-Nya mewajibkan setiap anak untuk menaati orangtuanya dalam perkara yang bukan kemaksiatan. Maka ibu selalu mengingatkan bahwa anak harus mendengar dan taat kepada ayahnya, sebaliknya ayah selalu mengingatkan bahwa anak harus selalu mendengar dan taat kepada ibunya.
Sudah saatnya diperdengarkan kepada mereka ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan hal ini, seperti firman-Nya:
Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia/baik. (QS. Al-Isro: 23)
Ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk berbakti kepada kedua orangtua sangat banyak, dan semua itu menunjukkan betapa agung kedudukan dan hak orangtua terhadap anaknya.
Secara umum anak berkewajiban untuk birrul walidain (berbakti kepada kedua orangtuanya). Akan tetapi, sang ibu lebih diutamakan dari sang ayah.
2. Mengajari anak bahwa yang paling berjasa setelah Alloh dan Rosul-Nya adalah orangtua
Kedua orantualah yang menjadi sebab anak-anaknya berbahagia. Kedua orangtua lebih merasakan pahit dan susahnya mengasuh anak-anaknya sejak dilahirkan. Mereka rela tidak tidur demi menjaga anaknya terutama ketika sedang sakit. Mereka tidak akan puas sampai anak-anaknya bahagia. Mereka rela memberikan apa yang mereka miliki untuk kebahagiaan anaknya, dan kebaikan mereka pun tidak putus-putus walaupun sang anak sudah menginjak usia dewasa atau bahkan ketika sudah berkeluarga, orang masih merasa sedih dan berusaha menolong apabila anaknya mendapatkan kesusahan. Oleh karenanya, anak tidak mungkin dapat membalas semua jasa kebaikan yang tak terhingga walaupun dia memberikan semua harta dan kekayaannya kepada kedua orangtuanya.
Sudah menjadi keharusan bagi setiap anak untuk berbakti kepada kedua orangtua dengan ucapan atau perbuatan, baik dengan harta atau jiwa dan raganya dengan melayani dan menuruti perkataannya selama bukan satu kemaksiatan.
3. Menghindari perselisihan di hadapan anak
Orangtua yang bijaksana selalu berusaha menyembunyikan perselisihan yang terjadi antara keduanya dari hadapan anak-anaknya.
Seorang suami yang bijaksana tidak menghinakan isterinya di hadapan anak-anaknya, apabila hendak menasehati, maka dengan cara yang baik dan tidak sampai menjatuhkan martabat dan wibawanya di mata anak-anaknya, bukan dengan membentak, mencaci, atau bahkan memukul sang istri di hadapan mereka, sehingga mereka tetap menaruh rasa hormat dan wibawa kepada sang ibu.
Anak yang sering melihat ibunya dimurkai atau bahkan dipukul oleh ayahnya hanya karena masalah sepele, akhirnya membenci sang ayah, karena mereka menganggap ayahnya seorang yang suka menzholimi ibunya: atau kalau tidak demikian, mereka menganggap ibunya bodoh dna akhirnya mereka ingin meniru ayahnya dan berani melawan ibunya, sehingga anak tidak lagi menurut kata-kata ibunya apalagi menerima nasehat-nasehatnya, bahkan tidak heran kalau ada anak kecil sudah berani memukul ibunya sendiri, terutama kalau sang ayah tidak di rumah karena anak hanya takut kepada ayahnya saja.
Seorang isteri yang bijaksana tidak akan membantah perkataan atau perintah sang suami di hadapan anak-anaknya. Apabila istri sering membantah suaminya di hadapan anak-anaknya, akibatnya anak yang sering menyaksikan hal ini menganggap ayahnya bodoh dan tidak perlu ditaati kata-katanya, sehingga hilanglah wibawa sang ayah di mata anaknya.
4. Orangtua tidak menyelisihi ucapannya.
Sering terdengar keluhan orangtua tentang anak-anaknya yang tidak mau menuruti perkataannya, bahkan di antara mereka ada yang berani membantah ucapan orangtuanya. Hal ini bisa terjadi lantaran beberapa sebab, di antaranya: orangtua tidak menyadari bahwa anaknya menyaksikan ayah atau ibunya melarang atau memerintahkan suatu hal tetapi dialah yang pertama kali menyelisihinya, ini mengakibatkan anak tidak percaya dengan larangan atau perintah orangtua, atau mereka menganggap bahwa perintah atau larangannya tidak harus dilaksanakan.
Subscribe to:
Posts (Atom)